Minggu, 07 Juni 2026

Angka Merah

Sudah menjadi kebiasaan, setiap menerima rapot hasil akhir pembelajaran, orang tua murid dan juga murid akan melihat perolehan angka dari setiap mata pelajaran. Fokus tatapan ada pada angka berwarna merah karena ini menandakan bahka angka tersebut secara nilai dimaknai sebagai di bawah standard. Jika melihat warna merah ini, murid akan tampak putus asa atau menyerah, sementara orang tuanya akan memasang muka tegang dengan tatapan seolah menyalahkan. Bahkan, bagi orang tua yang tidak terlalu perduli pada sekolah anaknya pun akan merasa kecewa dengan warna merah ini. Intinya, semua orang, secara umum akan memperlihatkan ekspresi sama terhadap angka merah dan semua orang tua berharap anaknya tidak mendapatkan warna tersebut.

Keadaan ini telah membudaya dan fokus pada angka merah menjadi keniscayaan. Alhasil, bagi murid yang mendapatkannya akan dicap bodoh (untuk mata pelajaran tertentu) dan bagi orang tua akan berusaha agar anaknya tidak lagi mendapat warna itu. Ada yang menyuruh anaknya lebih giat belajar, mengurangi jam sosialisasi atau mengirimnya untuk ikut les. 

Dari seluruh rangkaian mata pelajaran yang ada, fokusnya hanya di angka merah, angka yang menandakan kekurangan. Akhirnya ketika murid tersebut pada semester atau tahun berikutnya semua angka tak ada yang merah, maka seolah usaha telah tercapai. Padahal angka tak merah belum tentu menandakan kebisaan atau pemahaman. Selain itu, angka tak merah itu bisa jadi hanya syarat atau standard minimal semata. Dan kondisi berlanjut, ketika angka merah telah tak ada, mata berikutnya fokus kepada angka terendah dari seluruh angka yang ada. Angka terendah ini harus ditingkatkan pada semester/tahun berikutnya. Demikian seterusnya karena demikianlah budaya persekolahan yang ada, “fokus pada angka merah atau angka terendah”. 

Oleh karena itu, jangan heran jika banyak sekali anak murid kita yang nilainya hanya rata-rata saja. Jangan heran jika kemampuan dan pemahamannya hanya rata-rata. Semua anak murid terkesan dipaksa untuk mendapatkan nilai baik di semua mata pelajaran. Sementara semua orang juga tahu, tidak perlu riset akademik, bahwa sangat-sangat langka sekali seseorang yang bisa pandai dalam semua mata pelajaran. “Superman” akademik itu hanya ada dalam dunia fiksi. Setiap orang pasti piawai dalam salah satu atau mungkin lebih dari satu tapi tidak semua bidang. Nah, titik puncak mengherankannya atau mungkin juga absurdnya ada di sini. Jika setiap orang tak mesti piawai dalam semua mata pelajaran, lantas mengapa fokusnya pada angka merah yang mesti dihitamkan dan bukan pada angka tertinggi untuk terus diasah sampai pada akhirnya anak lepas sekolah dan menghadapi kehidupan nyata. Anak ini pada nantinya akan lebih siap menghadapi hidup bermodalkan bidang yang benar-benar ia kuasai dan bukan semua bidang yang kemampuannya hanya rata-rata (medioker) saja.

Jadi, bagi para murid, lupakan saja angka merah dan fokuslah pada apa yang kamu suka dan kuasai, karena pada nantinya kamu sendirilah yang akan menjalani hidup. Di dalam hidup orang-orang tak perduli apakah kamu pernah memiliki angka merah atau tidak. (**)

“dipantik dari videonya Sulianto Indra Putra” 

KA Kertanegara Solo-Jogja, 070626 

Sabtu, 06 Juni 2026

Nilai Rata

Sewaktu di Sekolah Dasar, aku menerima rapot dengan cukup gembira karena pada satu mata pelajaran yang dianggap sulit nilaiku 7,00. Ayah dan Ibuku yang tidak begitu paham sistem penilaian di sekolah ikut gembira. Namun, ketika diperiksa oleh Pak Lik, dengan dingin dia berujar, “Nilai ini belum bagus karena masih di bawah rata-rata kelas. Kalau di atas rata-rata kelas itu baru bagus.” Aku sedikit kecewa mendengar itu dan kembali memeriksa rapot dan benar saja nilai rata-rata kelas adalah 7,50. Selain itu aku juga belum tahu apa itu nilai rata-rata kelas dan pengaruhnya bagi nilaiku. Pak Lik menjelaskan cukup sederhana, “Nilai rata-rata kelas itu adalah nilai gabungan seluruh siswa di kelas yang dibagi jumlah siswa yang ada. Jadi kalau nilaimu berada di bawah rata-rata kelas itu artinya sebagian temanmu nilainya lebih tinggi darimu”. Mendengar itu aku langsung berpikir tentang siapa saja teman sekelas yang nilainya lebih tinggi itu dan oleh karenanya aku merasa lebih rendah dari mereka. Rapot yang tadinya menggimbarakan mendadak menjadi lembar mengesalkan demi menyadari nilai rata-rata kelas itu. Juga, atas kenyataan yang memantikku untuk memikirkan pencapaian orang lain berbanding dengan pencapaiaku.

Aku yang tadinya tidak memikirkan nilai teman akhirnya jadi mesti memikirkannya, dan tentu saja hal ini cukup meresahkan. Semua itu demi pengakuan bahwa aku mesti lebih baik dibanding rata-rata kelas. Dari titik ini, kemudian aku mencoba berusaha untuk lebih baik dengan belajar sedikit lebih keras. Jadi setiap ujian rasa deg-degan itu semakin kencang, apalagi ketika menunggu rapot dibagikan, degupnya semakin kencang. Tetapi untungnya hal semacam ini tidak berlangsung lama karena aku masih punya sifat malas yang lumayan terpelihara. Nilai rata-rata kelas itu pada akhirnya aku anggap sebagai data saja dan aku lebih mementingkan nilaiku saja dengan semangat cukup untuk tidak tinggal kelas. 

Semakin dewasa, aku semakin bersyukur atas rasa malas itu. Jika tidak tentu saja aku akan diperbudak pada perlombaan tak jelas hanya untuk mengejar nilai di atas rata-rata kelas. Ini menjadi capaian semu menurutku, sebab jika ada rata-rata kelas berarti ada rata-rata sekolah, rata-rata kota, propinsi, negara, dan bahkan dunia. Pertanyaan besar dalam kepalaku kemudian menyeruak, untuk apa semua pencapaian pribadi ini mesti diperbandingkan? Jadi secara tak sadar, kita ini sedikit dipaksa untuk membandingkan diri kita dengan orang lain. Padahal menjadi diri sendiri saja itu susahnya minta ampun. Ya, aku mesti menjadi diri sendiri yang pada saat itu mesti membangun kesadaran, "yang penting tidak tinggal kelas, dan nanti dapat lanjut di sekolah negeri". Kesadaran ini timbul karena aku bukan berasal dari keluarga cukup dan tidak mau terlalu menjadi beban kehidupan orang tua, meski hal itu sulit dihindari. Kesadaran ini membuat ringan langkahku sambil terus memelihara rasa malas dengan kenakalan anak-remaja yang tak terlalu merepotkan di lingkup sekolahan. Intinya santai saja, toh bumi itu berputar pelan sekali sampai tak terasa gerakannya tapi tahu-tahu telah mengelilingi matahari. (**)

Nauka Coffee, 06 0626

Jumat, 03 April 2026

AI Minta Maaf

Seorang teman suka sekali berdebat dengan AI Chatbot tentang berbagai hal. Ia menuturkan bahwa seringkali aplikasi AI Chatbot tersebut kewalahan menjawab pertanyaan. Padahal banyak orang bilang bahwa AI itu pinter. Ya, memang AI dapat dikatakan pinter karena ia mengumpulkan jawaban atas pertanyaan berdasar data masukan yang ada di web. Jadi, AI mencari jawab dari berbagai macam sumber yang ada di web lalu merangkumnya untuk menjawab pertanyaan. Kira-kira begitu. Tetapi, hal yang aneh adalah, si AI ini seringkali, setelah saya ikut mencoba, kewalahan menjawab pertanyaan yang kita tanyakan berdasar pada jawaban yang ia berikan. Artinya, kita memancing AI untuk berdebat dengan dirinya sendiri. Lebih lucu lagi, ketika jawaban yang ia berikan sedikit berbeda dengan jawaban sebelumnya, dan ini yang kita tanyakan, maka si AI ini minta maaf dan mengakui ketidakkonsistenan antara jawaban yang ia berikan sebelumnya dan yang kemudian. Ini sebenarnya biasa saja karena sumber data yang digunakan untuk menjawab yang sebelumnya dan yang kemudian itu berasal dari situs berbeda. Mengapa biasa, ya karena penulis di situs-situs itu orangnya beragam, tingkat intelektual dan pengetahuan beragam, sumber pokoknya beragam, dan kepentingannya juga beragam. Jadi wajar saja kalau AI mengumpulkan dan menyimpulkan jawaban atas pertanyaan dari berbagai sumber data sebelumnya berbeda sumber data yang digunakan untuk menjawab yang berikutnya, meskipun pertanyaannya masih dalam bidang yang sama hanya berbeda kalimat pertanyaannya. Hasilnya bisa saling mendukung atau justru ada kontradiksi. Nah inilah yang ditemukan teman saya itu. AI berkontradiksi dengan dirinya sendiri. Tetapi menurut saya yang tidak wajar adalah, ketika kontradiksi ini kita ungkapkan, si AI akan meminta maaf. Ia mengakui kekeliruannya. Kata "minta maaf" ini yang cukup mengherankan, karena AI terlihat lemah sekaligus manusiawi. Kalau lemah itu logis karena ketercukupan data yang tersedia, tetapi kalau manusiawi ini yang mengherankan. Kok bisa begitu? Jangan-jangan di masa datang AI bisa lebih dari itu manusiawinya? (**)

Sedayu, 030426 

Sabtu, 06 Desember 2025

Keindahan Keburukan

Di dalam proses belajar mengajar seni, saya selalu menekankan keberanian bertindak dengan tanpa memperdulikan hasil baik atau buruk. Menurut pandangan saya, proses menciptakan karya seni harus dimulai dari tindakan, coba-coba, membentuk, mengasah, membangun, menyusun, dan semua kata kerja lain yang dapat diajukan untuk menghasilkan karya seni. Sementara, pertimbangan apakah itu teori penciptaan atau skala ukuran indah-tak indah meski dikesampingkan terlebih dahulu. Dengan modal semacam ini, karya seni bisa lahir, namun penilaiannya sangat mana-suka, dan itu normal saja. Bahkan secara ekstrim, saya sering menganjurkan untuk membuat karya seni yang buruk. Harus buruk, karena yang utama diperlukan adalah keberanian. Menurut saya, keburukan itu adalah bagian dari proses menuju indah.

Saya pikir ini adalah pandangan ngawur saya yang didasari semangat memacu keberanian seseorang untuk berkarya. Namun ketika saat berjumpa Michael Hauskeller melalui bukunya "Seni Apa Itu? Posisi Estetika dari Platon sampai Danto" (2015) dan mengarahkan pada Karl Rosenkranz, saya terhenyak. Rupanya, Rosenkranz memiliki pandangan unik atas keburukan dalam karya seni. Sepanjang yang saya pahami, ia melihat bahwa karya seni dapat disebut indah ketika tidak menyembunyikan ancaman keburukan di dalamnya, dan ancaman itu ada. Saya bayangkan, cahaya fajar itu indah karena terancam oleh datangnya siang, demikian juga sunset yang terancam oleh datangnya malam, dan ancaman itu ada. Fajar tak akan indah ketika siang menjelang dan sunset tak indah ketika tertelan malam. Bagi fajar, siang adalah keburukan dan bagi sunset, malam adalah keburukan. Namun siang harus hadir demi indahnya fajar dan malam harus hadir demi indahnya cahaya matahari tenggelam.

Apa yang disampaikan secara filosofis oleh Rosenkranz ini jelas tidak sama dengan pandangan saya yang ngawur itu. Namun, di sini saya mendapat dasar pijakan estetika tentang unsur keburukan - yang saya ajarkan sebagai penyemangat keberanian - dalam karya seni yang indah. Di sini saya menjadi lega, karena prinspnya orang yang berani berkarya, meskipun dipandang orang lain sebagai karya yang buruk, tetap lebih berharga daripada orang yang memahami perihal karya seni nan indah namun tak berkarya sama sekali. Berikutnya, proses sintesis seperti yang disajikan oleh Rosenkranz akan bergantung pada pengalaman (bacaan, dengaran, lihatan, lakuan) seseorang dalam mencipta karya seni yang dapat disebut indah. Jadi, tetaplah bersemangat untuk terus berkarya seni bahkan ketika karya itu tak indah. (**)

Sedayu, 061225 

Rabu, 21 Mei 2025

Tidak Mengganggu

Satu hari, di dalam sebuah kendaraan umum, saya menyaksikan seseorang berpindah-pindah tempat duduk. Sementara kendaraan belum berjalan dan kursi penumpang semuanya bernomor. Saya agak bingung dan mencoba ngobrol dengan penumpang lain yang duduk di samping saya. "Orang itu kenapa ya pak pindah-pindah tempat duduk?" Dengan ringan dan setengah cuek orang itu menjawab, "Biarkan saja pak yang penting tidak mengganggu kita". Jawaban itu seolah menyadarkan saya untuk berkata, "Iya, ya", ngapain kita perlu repot pada tingkah seseorang yang tidak sedang mengusik kita. Karena kesadaran sesaat itu saya yang tadinya ingin tahu niat sesungguhnya dari penumpang berpindah-pindah tempat duduk itu menjadi diam dan setengah mengobservasi penumpang di samping saya. Secara sekilas saya kagum atas jawaban seenteng dan setenang itu. "Baiklah", demikian ujar saya dalam hati dan mengambil sikap ikut-ikutan tenang. 

Namun, pikiran tenang saya ternyata hanya sementara. Tak lama kemudian berkelebat pikiran lain sebagai reaksi atas tindakan penumpang berpindah-pindah tempat itu. Meski kecamuk pikiran terjadi, tubuh dan sikap saya tetap berusaha tenang. Di kepala saya terpikirkan tentang kursi bernomor di mana setiap penumpang pasti sudah memiliki tiket sesuai dengan nomor kursi. Apakah penumpang yang berpindah-pindah tadi bingung mencari nomor kursinya atau dia mencoba mencari kursi mana pun yang bagi dia nyaman sehingga tentu saja tidak sesuai dengan nomor kursi yang telah ia miliki? Semua pertanyaan ini saya coba jawab sendiri dalam pikiran termasuk akibat yang mungkin akan ditimbulkan dari jawaban tersebut. Namun demikian, saya tetap tenang dan bahkan mencoba memejamkan mata agar tidak melihat akibat apa yang bakal timbul setelah semua penumpang ada dan menduduki kursinya masing-masing sesuai nomor.

Ketika mata terpejam justru pikiran saya mengarah pada reaksi penumpang yang duduk di samping saya. Bukan lagi soal ketenangannya dalam bersikap, melainkan ekor kalimat jawabannya, "... yang penting tidak mengganggu kita". Hal ini membuat saya berpikir, "Jadi, kalau ada orang berpotensi mengganggu orang lain, kita boleh bersikap tak acuh karena tidak mengganggu kita?" "Jika semua orang bersikap tenang namun dengan semangat seperti ini lalu bagaimana jika ada potensi kriminal dalam sebuah peristiwa di publik?" "Apakah kita juga tetep cuek karena potensi itu tidak bakal terjadi pada kita?" "Lalu bagaimana jika potensi itu benar-benar terjadi?" "Apakah kita juga cuek karena kita bukan korbannya?" Banyak pertanyaan dalam pikiran yang mungkin terdengar aneh dan berlebihan melintasi kepala saya. Semua itu nampak terlalu halu. Namun apa yang halu di pertanyaan pikiran saya itu seringkali menjadi nyata ketika ada kecelakaan kecil, misalnya orang terjatuh dari motornya di pinggir jalan dan tak seorang pun mencoba menolong, bahkan menoleh pun tidak. Kalau sudah begini, maka apakah ekor kalimat ".... yang penting tidak mengganggu kita", masih bisa berlaku? (**)

Sedayu, 210525

Jumat, 16 Mei 2025

Maaf Berkelas

Sejak kecil umumnya dari kita diajar untuk bertindak jujur. Jika melakukan kesalahan kita diharuskan untuk meminta maaf, karena akibat dari kesalahan itu kita bisa merugikan orang lain. Artinya, minta maaf adalah sebuah kewajiban. Namun dewasa ini, banyak kita temui baik nyata atau dalam berita bahwa tidak sedikit orang yang bersalah tidak mau minta maaf, bahkan menyalahkan orang lain atas kesalahannya. Di jalanan macet sering kita temui, seseorang tidak sengaja menabrak kendaraan orang lain. Entah karena gugup sebab macet, entah karena hilang kendali sesaat. Anehnya, si penabrak ini dengan lantang menyalahkan orang yang ditabrak dengan berbagai alasan. Ini dilakukannya agar orang yang tertabrak tadi tidak menyalahkannya. Ketika si tertabrak merasa tidak terima disalahkan karena memang ia tidak salah, maka pertengkaran pun akan terjadi. Mula-mula verbal, lalu saling berbesar volume suara, kemudian jika tak terkendali fisik mulai terlibat. Semua ini terjadi karena ketidakjujuran melakukan kesalahan dan meminta maaf atas hal tersebut. Padahal jika itu dilakukan pasti semuanya akan beres dalam sekejap.

Peristiwa semacam di atas, sudah seringkali terjadi dan si salah tak mau minta maaf. Lalu, apakah orang-orang ini tidak diajar orang tuanya dahulu ketika masih kecil untuk jujur mengakui kesalahan dan meminta maaf? Kita jelas tidak tahu itu. Tetapi yang kita tahu, tindakan tidak mau mengakui kesalahan ini banyak kali terjadi dan seolah menjadi keumuman. Apalagi ketika kita melihat berita bagaimana para pemimpin sering menimpakan kesalahan pada orang lain ketika terjadi kekeliruan pelaksanaan sebuah kebijakan. Bahkan, di berita juga kita temui, pemimpin menyalahkan korban kebijakannya. Jadi, hal ini mungkin akan menjadi semacam patron yang diikuti oleh warga masyarakat. Jika sudah demikian, maka saling menyalahkan (pertengkaran) menjadi hal yang teramat sangat biasa. Akhirnya, orang yang berani meminta maaf atas sebuah kesalahan yang dilakukan itu menjadi sesuatu yang, "wah". Suatu tindakan berkelas. Padahal, itu sesungguhnya adalah kewajiban, yang sama sekali tidak membutuhkan tepuk tangan karena memang harus dilakukan.

Lebih aneh lagi, ketika seolah semua orang dianggap bakal mengamini bahwa tindakan minta maaf adalah tindakan berkelas, maka sengaja dirancanglah sebuah kesalahan oleh seseorang atau sekelompok orang. Perancangan ini bertujuan, agar nanti ketika kesalahan itu terjadi, kemudian muncul respon atas kesalahan, maka meminta maaf segera dilakukan. Kemudian, orang-orang yang sekelompok dengan si pelaku kesalahan disengaja ini melontarkan pujian bahwa orang yang bersalah tadi sungguh berkelas karena mau meminta maaf. Lebih heboh lagi, para pemuji ini menggaungkan pujian itu untuk menyindir orang atau kelompok lain sebagai tidak berkelas karena tidak pernah minta maaf. Aneh, sungguh aneh. Tetapi hal ini akan banyak kita saksikan dalam kehidupan politik dukung-mendukung di media sosial. (**)

Mandala Krida, 160525