Saya terkadang melihat potongan video tentang pendidikan yang membuat dejavu. Di satu tayangan, banyak sekolah mulai menerapkan kembali kertas, buku, dan pulpen. Pada tayangan lain memperlihatkan sekolah memiliki ruang kelas untuk belajar memasak. Kedua hal yang saya saksikan itu terjadi di sekolah modern zaman ini di negara-negara maju. Padahal saya sendiri pernah mengalami hal-hal tersebut pada masa-masa sekolah dulu dan di negara yang seringkali minder untuk meyakini diri sebagai negara maju.
Penggunaan kertas, buku, pensil atau pulpen adalah kewajiban semasa saya sekolah dulu. Bahkan perkara keterampilan menulis itu pun siswa diajari untuk menulis latin halus dengan buku khusus. Termasuk matematika juga punya buku khusus yang disebut sebagai "cacah gori". Semua siswa harus mendengarkan dan memperhatikan Guru menjelaskan materi pembelajaran yang ada di buku dan siswa perlu mencatat ulang hal-hal penting. Selalu seperti itu, dan untuk menambah pemahaman, Guru memberikan pekerjaan rumah yang juga harus dikerjakan dengan cara menulis di kertas (buku tulis). Jadi, mengapa semua yang pernah saya alami itu kembali didengungkan? Apakah buku, kertas dan pensil telah ditinggalkan dalam waktu yang lama pada penyelenggaraan sekolah? Rupanya memang demikian.
Banyak negara maju yang percaya dengan perkembangan teknologi pendidikan sehingga mereka mulai menggunakan layar pintar, baik di kelas maupun untuk siswa secara personal. Semua materi belajar dan model pembelajaran ada di dan menggunakan layar pintar itu. Tetapi setelah sekian lama, juga karena adanya penelitian serius, mereka tersadar bahwa layar pintar tidaklah memintarkan penggunanya. Teknologi pendidikan rupanya hanya memberi keuntungan bagi produsen teknologi itu karena penggunaan intensifnya mesti berbayar. Sementara media lama (pen, book, paper) yang sangat murah justru mampu mengaktivasi proses kognitif siswa dalam kegiatan belajar. Hal inilah yang mendorong mereka untuk mulai mengurangi penggunaan layar dan kembali ke model lama. Sementara, saya saat ini, di mana saya tinggal, dihadapkan pada apa yang disebut dengan teknologi pendidikan (digitalisasi) yang semua serba layar untuk penyelenggaraan belajar-mengajar itu. Bagi yang tak paham penggunaan layar dan segala isinya itu akan dianggap tertinggal dan perlu mendapat pelatihan khusus. Jadi, pendidikan di negara maju yang kembali ke pen, book, and paper itu sedang menuju ke ketertinggalan ya?
Pada video lain yang memperlihatkan pelajaran memasak di sekolah menengah umum, membuat memori melintas pada saat sekolah dasar di mana pelajaran masak-memasak itu masih umum ditemui. Guru di video menjelaskan bahwa memasak adalah kegiatan penting bagi manusia, terutama untuk survival. Sementara dalam konteks pembelajaran ternyata memasak itu dapat memantik kemampuan manajerial, budgeting, disiplin, dan tertib diri. Saya jadi ingat tulisan tentang Universitas Harvard yang mengadakan penelitian beberapa dekade tentang kegiatan pekerjaan rumah tangga seperti, mencuci, memasak, menyapu dan sejenisnya yang dibiasakan sejak usia dini mampu membentuk kekuatan mental, membukakan peluang menjalin hubungan lebih baik, dan memliki peluang lebih besar untuk sukses bagi pelakunya di masa dewasa. Penelitian yang sama dengan sudut pandang berbeda juga dilakukan oleh University of Minnesota dan La Trobe University. Intinya, anak-anak yang dibiasakan mengerjakan pekerjaan rumahan yang tampak remeh-temeh itu justru nantinya akan memiliki kepribadian hebat.
Saya senyum melihat video itu, namun juga sedikit mengernyit. Ya, dulu saya dan teman-teman tidak hanya diajari memasak tetapi juga menghidangkan teh untuk tamu serta selalu diingatkan oleh Guru untuk merapikan tempat tidur, menyapu, dan mencuci gelas serta piring yang telah kita gunakan. Hebatnya lagi, semua kegiatan rumahan itu dilakukan tanpa embel-embel lomba memperebutkan peringkat tertentu. Semua berjalan alami saja. Untuk itulah saya tersenyum karena merasa beruntung pernah mendapat pengalaman itu. Sampai saat ini pun saya masih bisa memasak meskipun hanya menu standard dan merasa santai saja ketika harus menyapu atau mencuci pearalatan dapur yang kotor. Sementara, saya mengernyit karena memikirkan apakah pelajaran semacam itu masih ada di sekolah dasar atau menengah atau malah dihilangkan karena dianggap tidak penting?
Lalu kemudian, terbersit pertanyaan, apakah sekarang saya ini sedang berada pada masa pendidkan diarahkan untuk maju ke depan atau mundur ke belakang? Ataukah alurnya melingkar dan sekarang saya sedang berada di wilayah dan tahap yang mencoba maju untuk mundur dan ambil ancang-ancang?
BuraBuraHQ Cafe, 160826