Sudah menjadi kebiasaan, setiap menerima rapot hasil akhir pembelajaran, orang tua murid dan juga murid akan melihat perolehan angka dari setiap mata pelajaran. Fokus tatapan ada pada angka berwarna merah karena ini menandakan bahka angka tersebut secara nilai dimaknai sebagai di bawah standard. Jika melihat warna merah ini, murid akan tampak putus asa atau menyerah, sementara orang tuanya akan memasang muka tegang dengan tatapan seolah menyalahkan. Bahkan, bagi orang tua yang tidak terlalu perduli pada sekolah anaknya pun akan merasa kecewa dengan warna merah ini. Intinya, semua orang, secara umum akan memperlihatkan ekspresi sama terhadap angka merah dan semua orang tua berharap anaknya tidak mendapatkan warna tersebut.
Keadaan ini telah membudaya dan fokus pada angka merah menjadi keniscayaan. Alhasil, bagi murid yang mendapatkannya akan dicap bodoh (untuk mata pelajaran tertentu) dan bagi orang tua akan berusaha agar anaknya tidak lagi mendapat warna itu. Ada yang menyuruh anaknya lebih giat belajar, mengurangi jam sosialisasi atau mengirimnya untuk ikut les.
Dari seluruh rangkaian mata pelajaran yang ada, fokusnya hanya di angka merah, angka yang menandakan kekurangan. Akhirnya ketika murid tersebut pada semester atau tahun berikutnya semua angka tak ada yang merah, maka seolah usaha telah tercapai. Padahal angka tak merah belum tentu menandakan kebisaan atau pemahaman. Selain itu, angka tak merah itu bisa jadi hanya syarat atau standard minimal semata. Dan kondisi berlanjut, ketika angka merah telah tak ada, mata berikutnya fokus kepada angka terendah dari seluruh angka yang ada. Angka terendah ini harus ditingkatkan pada semester/tahun berikutnya. Demikian seterusnya karena demikianlah budaya persekolahan yang ada, “fokus pada angka merah atau angka terendah”.
Oleh karena itu, jangan heran jika banyak sekali anak murid kita yang nilainya hanya rata-rata saja. Jangan heran jika kemampuan dan pemahamannya hanya rata-rata. Semua anak murid terkesan dipaksa untuk mendapatkan nilai baik di semua mata pelajaran. Sementara semua orang juga tahu, tidak perlu riset akademik, bahwa sangat-sangat langka sekali seseorang yang bisa pandai dalam semua mata pelajaran. “Superman” akademik itu hanya ada dalam dunia fiksi. Setiap orang pasti piawai dalam salah satu atau mungkin lebih dari satu tapi tidak semua bidang. Nah, titik puncak mengherankannya atau mungkin juga absurdnya ada di sini. Jika setiap orang tak mesti piawai dalam semua mata pelajaran, lantas mengapa fokusnya pada angka merah yang mesti dihitamkan dan bukan pada angka tertinggi untuk terus diasah sampai pada akhirnya anak lepas sekolah dan menghadapi kehidupan nyata. Anak ini pada nantinya akan lebih siap menghadapi hidup bermodalkan bidang yang benar-benar ia kuasai dan bukan semua bidang yang kemampuannya hanya rata-rata (medioker) saja.
Jadi, bagi para murid, lupakan saja angka merah dan fokuslah pada apa yang kamu suka dan kuasai, karena pada nantinya kamu sendirilah yang akan menjalani hidup. Di dalam hidup orang-orang tak perduli apakah kamu pernah memiliki angka merah atau tidak. (**)
“dipantik dari videonya Sulianto Indra Putra”
KA Kertanegara Solo-Jogja, 070626