Minggu, 16 Agustus 2026

Maju, Mundur, atau Berputar

Saya terkadang melihat potongan video tentang pendidikan yang membuat dejavu. Di satu tayangan, banyak sekolah mulai menerapkan kembali kertas, buku, dan pulpen. Pada tayangan lain memperlihatkan sekolah memiliki ruang kelas untuk belajar memasak. Kedua hal yang saya saksikan itu terjadi di sekolah modern zaman ini di negara-negara maju. Padahal saya sendiri pernah mengalami hal-hal tersebut pada masa-masa sekolah dulu dan di negara yang seringkali minder untuk meyakini diri sebagai negara maju.

Penggunaan kertas, buku, pensil atau pulpen adalah kewajiban semasa saya sekolah dulu. Bahkan perkara keterampilan menulis itu pun siswa diajari untuk menulis latin halus dengan buku khusus. Termasuk matematika juga punya buku khusus yang disebut sebagai "cacah gori". Semua siswa harus mendengarkan dan memperhatikan Guru menjelaskan materi pembelajaran yang ada di buku dan siswa perlu mencatat ulang hal-hal penting. Selalu seperti itu, dan untuk menambah pemahaman, Guru memberikan pekerjaan rumah yang juga harus dikerjakan dengan cara menulis di kertas (buku tulis). Jadi, mengapa semua yang pernah saya alami itu kembali didengungkan? Apakah buku, kertas dan pensil telah ditinggalkan dalam waktu yang lama pada penyelenggaraan sekolah? Rupanya memang demikian. 

Banyak negara maju yang percaya dengan perkembangan teknologi pendidikan sehingga mereka mulai menggunakan layar pintar, baik di kelas maupun untuk siswa secara personal. Semua materi belajar dan model pembelajaran ada di  dan menggunakan layar pintar itu. Tetapi setelah sekian lama, juga karena adanya penelitian serius, mereka tersadar bahwa layar pintar tidaklah memintarkan penggunanya. Teknologi pendidikan rupanya hanya memberi keuntungan bagi produsen teknologi itu karena penggunaan intensifnya mesti berbayar. Sementara media lama (pen, book, paper) yang sangat murah justru mampu mengaktivasi proses kognitif siswa dalam kegiatan belajar. Hal inilah yang mendorong mereka untuk mulai mengurangi penggunaan layar dan kembali ke model lama. Sementara, saya saat ini, di mana saya tinggal, dihadapkan pada apa yang disebut dengan teknologi pendidikan (digitalisasi) yang semua serba layar untuk penyelenggaraan belajar-mengajar itu. Bagi yang tak paham penggunaan layar dan segala isinya itu akan dianggap tertinggal dan perlu mendapat pelatihan khusus. Jadi, pendidikan di negara maju yang kembali ke pen, book, and paper itu sedang menuju ke ketertinggalan ya?

Pada video lain yang memperlihatkan pelajaran memasak di sekolah menengah umum, membuat memori melintas pada saat sekolah dasar di mana pelajaran masak-memasak itu masih umum ditemui. Guru di video menjelaskan bahwa memasak adalah kegiatan penting bagi manusia, terutama untuk survival. Sementara dalam konteks pembelajaran ternyata memasak itu dapat memantik kemampuan manajerial, budgeting, disiplin, dan tertib diri. Saya jadi ingat tulisan tentang Universitas Harvard yang mengadakan penelitian beberapa dekade tentang kegiatan pekerjaan rumah tangga seperti, mencuci, memasak, menyapu dan sejenisnya yang dibiasakan sejak usia dini mampu membentuk kekuatan mental, membukakan peluang menjalin hubungan lebih baik, dan memliki peluang lebih besar untuk sukses bagi pelakunya di masa dewasa. Penelitian yang sama dengan sudut pandang berbeda juga dilakukan oleh University of Minnesota dan La Trobe University. Intinya, anak-anak yang dibiasakan mengerjakan pekerjaan rumahan yang tampak remeh-temeh itu justru nantinya akan memiliki kepribadian hebat.

Saya senyum melihat video itu, namun juga sedikit mengernyit. Ya, dulu saya dan teman-teman tidak hanya diajari memasak tetapi juga menghidangkan teh untuk tamu serta selalu diingatkan oleh Guru untuk merapikan tempat tidur, menyapu, dan mencuci gelas serta piring yang telah kita gunakan. Hebatnya lagi, semua kegiatan rumahan itu dilakukan tanpa embel-embel lomba memperebutkan peringkat tertentu. Semua berjalan alami saja. Untuk itulah saya tersenyum karena merasa beruntung pernah mendapat pengalaman itu. Sampai saat ini pun saya masih bisa memasak meskipun hanya menu standard dan merasa santai saja ketika harus menyapu atau mencuci pearalatan dapur yang kotor. Sementara, saya mengernyit karena memikirkan apakah pelajaran semacam itu masih ada di sekolah dasar atau menengah atau malah dihilangkan karena dianggap tidak penting?

Lalu kemudian, terbersit pertanyaan, apakah sekarang saya ini sedang berada pada masa pendidkan diarahkan untuk maju ke depan atau mundur ke belakang? Ataukah alurnya melingkar dan sekarang saya sedang berada di wilayah dan tahap yang mencoba maju untuk mundur dan ambil ancang-ancang?

BuraBuraHQ Cafe, 160826

Minggu, 07 Juni 2026

Angka Merah

Sudah menjadi kebiasaan, setiap menerima rapot hasil akhir pembelajaran, orang tua murid dan juga murid akan melihat perolehan angka dari setiap mata pelajaran. Fokus tatapan ada pada angka berwarna merah karena ini menandakan bahka angka tersebut secara nilai dimaknai sebagai di bawah standard. Jika melihat warna merah ini, murid akan tampak putus asa atau menyerah, sementara orang tuanya akan memasang muka tegang dengan tatapan seolah menyalahkan. Bahkan, bagi orang tua yang tidak terlalu perduli pada sekolah anaknya pun akan merasa kecewa dengan warna merah ini. Intinya, semua orang, secara umum akan memperlihatkan ekspresi sama terhadap angka merah dan semua orang tua berharap anaknya tidak mendapatkan warna tersebut.

Keadaan ini telah membudaya dan fokus pada angka merah menjadi keniscayaan. Alhasil, bagi murid yang mendapatkannya akan dicap bodoh (untuk mata pelajaran tertentu) dan bagi orang tua akan berusaha agar anaknya tidak lagi mendapat warna itu. Ada yang menyuruh anaknya lebih giat belajar, mengurangi jam sosialisasi atau mengirimnya untuk ikut les. 

Dari seluruh rangkaian mata pelajaran yang ada, fokusnya hanya di angka merah, angka yang menandakan kekurangan. Akhirnya ketika murid tersebut pada semester atau tahun berikutnya semua angka tak ada yang merah, maka seolah usaha telah tercapai. Padahal angka tak merah belum tentu menandakan kebisaan atau pemahaman. Selain itu, angka tak merah itu bisa jadi hanya syarat atau standard minimal semata. Dan kondisi berlanjut, ketika angka merah telah tak ada, mata berikutnya fokus kepada angka terendah dari seluruh angka yang ada. Angka terendah ini harus ditingkatkan pada semester/tahun berikutnya. Demikian seterusnya karena demikianlah budaya persekolahan yang ada, “fokus pada angka merah atau angka terendah”. 

Oleh karena itu, jangan heran jika banyak sekali anak murid kita yang nilainya hanya rata-rata saja. Jangan heran jika kemampuan dan pemahamannya hanya rata-rata. Semua anak murid terkesan dipaksa untuk mendapatkan nilai baik di semua mata pelajaran. Sementara semua orang juga tahu, tidak perlu riset akademik, bahwa sangat-sangat langka sekali seseorang yang bisa pandai dalam semua mata pelajaran. “Superman” akademik itu hanya ada dalam dunia fiksi. Setiap orang pasti piawai dalam salah satu atau mungkin lebih dari satu tapi tidak semua bidang. Nah, titik puncak mengherankannya atau mungkin juga absurdnya ada di sini. Jika setiap orang tak mesti piawai dalam semua mata pelajaran, lantas mengapa fokusnya pada angka merah yang mesti dihitamkan dan bukan pada angka tertinggi untuk terus diasah sampai pada akhirnya anak lepas sekolah dan menghadapi kehidupan nyata. Anak ini pada nantinya akan lebih siap menghadapi hidup bermodalkan bidang yang benar-benar ia kuasai dan bukan semua bidang yang kemampuannya hanya rata-rata (medioker) saja.

Jadi, bagi para murid, lupakan saja angka merah dan fokuslah pada apa yang kamu suka dan kuasai, karena pada nantinya kamu sendirilah yang akan menjalani hidup. Di dalam hidup orang-orang tak perduli apakah kamu pernah memiliki angka merah atau tidak. (**)

“dipantik dari videonya Sulianto Indra Putra” 

KA Kertanegara Solo-Jogja, 070626 

Sabtu, 06 Juni 2026

Nilai Rata

Sewaktu di Sekolah Dasar, aku menerima rapot dengan cukup gembira karena pada satu mata pelajaran yang dianggap sulit nilaiku 7,00. Ayah dan Ibuku yang tidak begitu paham sistem penilaian di sekolah ikut gembira. Namun, ketika diperiksa oleh Pak Lik, dengan dingin dia berujar, “Nilai ini belum bagus karena masih di bawah rata-rata kelas. Kalau di atas rata-rata kelas itu baru bagus.” Aku sedikit kecewa mendengar itu dan kembali memeriksa rapot dan benar saja nilai rata-rata kelas adalah 7,50. Selain itu aku juga belum tahu apa itu nilai rata-rata kelas dan pengaruhnya bagi nilaiku. Pak Lik menjelaskan cukup sederhana, “Nilai rata-rata kelas itu adalah nilai gabungan seluruh siswa di kelas yang dibagi jumlah siswa yang ada. Jadi kalau nilaimu berada di bawah rata-rata kelas itu artinya sebagian temanmu nilainya lebih tinggi darimu”. Mendengar itu aku langsung berpikir tentang siapa saja teman sekelas yang nilainya lebih tinggi itu dan oleh karenanya aku merasa lebih rendah dari mereka. Rapot yang tadinya menggimbarakan mendadak menjadi lembar mengesalkan demi menyadari nilai rata-rata kelas itu. Juga, atas kenyataan yang memantikku untuk memikirkan pencapaian orang lain berbanding dengan pencapaiaku.

Aku yang tadinya tidak memikirkan nilai teman akhirnya jadi mesti memikirkannya, dan tentu saja hal ini cukup meresahkan. Semua itu demi pengakuan bahwa aku mesti lebih baik dibanding rata-rata kelas. Dari titik ini, kemudian aku mencoba berusaha untuk lebih baik dengan belajar sedikit lebih keras. Jadi setiap ujian rasa deg-degan itu semakin kencang, apalagi ketika menunggu rapot dibagikan, degupnya semakin kencang. Tetapi untungnya hal semacam ini tidak berlangsung lama karena aku masih punya sifat malas yang lumayan terpelihara. Nilai rata-rata kelas itu pada akhirnya aku anggap sebagai data saja dan aku lebih mementingkan nilaiku saja dengan semangat cukup untuk tidak tinggal kelas. 

Semakin dewasa, aku semakin bersyukur atas rasa malas itu. Jika tidak tentu saja aku akan diperbudak pada perlombaan tak jelas hanya untuk mengejar nilai di atas rata-rata kelas. Ini menjadi capaian semu menurutku, sebab jika ada rata-rata kelas berarti ada rata-rata sekolah, rata-rata kota, propinsi, negara, dan bahkan dunia. Pertanyaan besar dalam kepalaku kemudian menyeruak, untuk apa semua pencapaian pribadi ini mesti diperbandingkan? Jadi secara tak sadar, kita ini sedikit dipaksa untuk membandingkan diri kita dengan orang lain. Padahal menjadi diri sendiri saja itu susahnya minta ampun. Ya, aku mesti menjadi diri sendiri yang pada saat itu mesti membangun kesadaran, "yang penting tidak tinggal kelas, dan nanti dapat lanjut di sekolah negeri". Kesadaran ini timbul karena aku bukan berasal dari keluarga cukup dan tidak mau terlalu menjadi beban kehidupan orang tua, meski hal itu sulit dihindari. Kesadaran ini membuat ringan langkahku sambil terus memelihara rasa malas dengan kenakalan anak-remaja yang tak terlalu merepotkan di lingkup sekolahan. Intinya santai saja, toh bumi itu berputar pelan sekali sampai tak terasa gerakannya tapi tahu-tahu telah mengelilingi matahari. (**)

Nauka Coffee, 06 0626

Jumat, 03 April 2026

AI Minta Maaf

Seorang teman suka sekali berdebat dengan AI Chatbot tentang berbagai hal. Ia menuturkan bahwa seringkali aplikasi AI Chatbot tersebut kewalahan menjawab pertanyaan. Padahal banyak orang bilang bahwa AI itu pinter. Ya, memang AI dapat dikatakan pinter karena ia mengumpulkan jawaban atas pertanyaan berdasar data masukan yang ada di web. Jadi, AI mencari jawab dari berbagai macam sumber yang ada di web lalu merangkumnya untuk menjawab pertanyaan. Kira-kira begitu. Tetapi, hal yang aneh adalah, si AI ini seringkali, setelah saya ikut mencoba, kewalahan menjawab pertanyaan yang kita tanyakan berdasar pada jawaban yang ia berikan. Artinya, kita memancing AI untuk berdebat dengan dirinya sendiri. Lebih lucu lagi, ketika jawaban yang ia berikan sedikit berbeda dengan jawaban sebelumnya, dan ini yang kita tanyakan, maka si AI ini minta maaf dan mengakui ketidakkonsistenan antara jawaban yang ia berikan sebelumnya dan yang kemudian. Ini sebenarnya biasa saja karena sumber data yang digunakan untuk menjawab yang sebelumnya dan yang kemudian itu berasal dari situs berbeda. Mengapa biasa, ya karena penulis di situs-situs itu orangnya beragam, tingkat intelektual dan pengetahuan beragam, sumber pokoknya beragam, dan kepentingannya juga beragam. Jadi wajar saja kalau AI mengumpulkan dan menyimpulkan jawaban atas pertanyaan dari berbagai sumber data sebelumnya berbeda sumber data yang digunakan untuk menjawab yang berikutnya, meskipun pertanyaannya masih dalam bidang yang sama hanya berbeda kalimat pertanyaannya. Hasilnya bisa saling mendukung atau justru ada kontradiksi. Nah inilah yang ditemukan teman saya itu. AI berkontradiksi dengan dirinya sendiri. Tetapi menurut saya yang tidak wajar adalah, ketika kontradiksi ini kita ungkapkan, si AI akan meminta maaf. Ia mengakui kekeliruannya. Kata "minta maaf" ini yang cukup mengherankan, karena AI terlihat lemah sekaligus manusiawi. Kalau lemah itu logis karena ketercukupan data yang tersedia, tetapi kalau manusiawi ini yang mengherankan. Kok bisa begitu? Jangan-jangan di masa datang AI bisa lebih dari itu manusiawinya? (**)

Sedayu, 030426 

Sabtu, 06 Desember 2025

Keindahan Keburukan

Di dalam proses belajar mengajar seni, saya selalu menekankan keberanian bertindak dengan tanpa memperdulikan hasil baik atau buruk. Menurut pandangan saya, proses menciptakan karya seni harus dimulai dari tindakan, coba-coba, membentuk, mengasah, membangun, menyusun, dan semua kata kerja lain yang dapat diajukan untuk menghasilkan karya seni. Sementara, pertimbangan apakah itu teori penciptaan atau skala ukuran indah-tak indah meski dikesampingkan terlebih dahulu. Dengan modal semacam ini, karya seni bisa lahir, namun penilaiannya sangat mana-suka, dan itu normal saja. Bahkan secara ekstrim, saya sering menganjurkan untuk membuat karya seni yang buruk. Harus buruk, karena yang utama diperlukan adalah keberanian. Menurut saya, keburukan itu adalah bagian dari proses menuju indah.

Saya pikir ini adalah pandangan ngawur saya yang didasari semangat memacu keberanian seseorang untuk berkarya. Namun ketika saat berjumpa Michael Hauskeller melalui bukunya "Seni Apa Itu? Posisi Estetika dari Platon sampai Danto" (2015) dan mengarahkan pada Karl Rosenkranz, saya terhenyak. Rupanya, Rosenkranz memiliki pandangan unik atas keburukan dalam karya seni. Sepanjang yang saya pahami, ia melihat bahwa karya seni dapat disebut indah ketika tidak menyembunyikan ancaman keburukan di dalamnya, dan ancaman itu ada. Saya bayangkan, cahaya fajar itu indah karena terancam oleh datangnya siang, demikian juga sunset yang terancam oleh datangnya malam, dan ancaman itu ada. Fajar tak akan indah ketika siang menjelang dan sunset tak indah ketika tertelan malam. Bagi fajar, siang adalah keburukan dan bagi sunset, malam adalah keburukan. Namun siang harus hadir demi indahnya fajar dan malam harus hadir demi indahnya cahaya matahari tenggelam.

Apa yang disampaikan secara filosofis oleh Rosenkranz ini jelas tidak sama dengan pandangan saya yang ngawur itu. Namun, di sini saya mendapat dasar pijakan estetika tentang unsur keburukan - yang saya ajarkan sebagai penyemangat keberanian - dalam karya seni yang indah. Di sini saya menjadi lega, karena prinspnya orang yang berani berkarya, meskipun dipandang orang lain sebagai karya yang buruk, tetap lebih berharga daripada orang yang memahami perihal karya seni nan indah namun tak berkarya sama sekali. Berikutnya, proses sintesis seperti yang disajikan oleh Rosenkranz akan bergantung pada pengalaman (bacaan, dengaran, lihatan, lakuan) seseorang dalam mencipta karya seni yang dapat disebut indah. Jadi, tetaplah bersemangat untuk terus berkarya seni bahkan ketika karya itu tak indah. (**)

Sedayu, 061225 

Rabu, 21 Mei 2025

Tidak Mengganggu

Satu hari, di dalam sebuah kendaraan umum, saya menyaksikan seseorang berpindah-pindah tempat duduk. Sementara kendaraan belum berjalan dan kursi penumpang semuanya bernomor. Saya agak bingung dan mencoba ngobrol dengan penumpang lain yang duduk di samping saya. "Orang itu kenapa ya pak pindah-pindah tempat duduk?" Dengan ringan dan setengah cuek orang itu menjawab, "Biarkan saja pak yang penting tidak mengganggu kita". Jawaban itu seolah menyadarkan saya untuk berkata, "Iya, ya", ngapain kita perlu repot pada tingkah seseorang yang tidak sedang mengusik kita. Karena kesadaran sesaat itu saya yang tadinya ingin tahu niat sesungguhnya dari penumpang berpindah-pindah tempat duduk itu menjadi diam dan setengah mengobservasi penumpang di samping saya. Secara sekilas saya kagum atas jawaban seenteng dan setenang itu. "Baiklah", demikian ujar saya dalam hati dan mengambil sikap ikut-ikutan tenang. 

Namun, pikiran tenang saya ternyata hanya sementara. Tak lama kemudian berkelebat pikiran lain sebagai reaksi atas tindakan penumpang berpindah-pindah tempat itu. Meski kecamuk pikiran terjadi, tubuh dan sikap saya tetap berusaha tenang. Di kepala saya terpikirkan tentang kursi bernomor di mana setiap penumpang pasti sudah memiliki tiket sesuai dengan nomor kursi. Apakah penumpang yang berpindah-pindah tadi bingung mencari nomor kursinya atau dia mencoba mencari kursi mana pun yang bagi dia nyaman sehingga tentu saja tidak sesuai dengan nomor kursi yang telah ia miliki? Semua pertanyaan ini saya coba jawab sendiri dalam pikiran termasuk akibat yang mungkin akan ditimbulkan dari jawaban tersebut. Namun demikian, saya tetap tenang dan bahkan mencoba memejamkan mata agar tidak melihat akibat apa yang bakal timbul setelah semua penumpang ada dan menduduki kursinya masing-masing sesuai nomor.

Ketika mata terpejam justru pikiran saya mengarah pada reaksi penumpang yang duduk di samping saya. Bukan lagi soal ketenangannya dalam bersikap, melainkan ekor kalimat jawabannya, "... yang penting tidak mengganggu kita". Hal ini membuat saya berpikir, "Jadi, kalau ada orang berpotensi mengganggu orang lain, kita boleh bersikap tak acuh karena tidak mengganggu kita?" "Jika semua orang bersikap tenang namun dengan semangat seperti ini lalu bagaimana jika ada potensi kriminal dalam sebuah peristiwa di publik?" "Apakah kita juga tetep cuek karena potensi itu tidak bakal terjadi pada kita?" "Lalu bagaimana jika potensi itu benar-benar terjadi?" "Apakah kita juga cuek karena kita bukan korbannya?" Banyak pertanyaan dalam pikiran yang mungkin terdengar aneh dan berlebihan melintasi kepala saya. Semua itu nampak terlalu halu. Namun apa yang halu di pertanyaan pikiran saya itu seringkali menjadi nyata ketika ada kecelakaan kecil, misalnya orang terjatuh dari motornya di pinggir jalan dan tak seorang pun mencoba menolong, bahkan menoleh pun tidak. Kalau sudah begini, maka apakah ekor kalimat ".... yang penting tidak mengganggu kita", masih bisa berlaku? (**)

Sedayu, 210525