Sewaktu di Sekolah Dasar, aku menerima rapot dengan cukup gembira karena pada satu mata pelajaran yang dianggap sulit nilaiku 7,00. Ayah dan Ibuku yang tidak begitu paham sistem penilaian di sekolah ikut gembira. Namun, ketika diperiksa oleh Pak Lik, dengan dingin dia berujar, “Nilai ini belum bagus karena masih di bawah rata-rata kelas. Kalau di atas rata-rata kelas itu baru bagus.” Aku sedikit kecewa mendengar itu dan kembali memeriksa rapot dan benar saja nilai rata-rata kelas adalah 7,50. Selain itu aku juga belum tahu apa itu nilai rata-rata kelas dan pengaruhnya bagi nilaiku. Pak Lik menjelaskan cukup sederhana, “Nilai rata-rata kelas itu adalah nilai gabungan seluruh siswa di kelas yang dibagi jumlah siswa yang ada. Jadi kalau nilaimu berada di bawah rata-rata kelas itu artinya sebagian temanmu nilainya lebih tinggi darimu”. Mendengar itu aku langsung berpikir tentang siapa saja teman sekelas yang nilainya lebih tinggi itu dan oleh karenanya aku merasa lebih rendah dari mereka. Rapot yang tadinya menggimbarakan mendadak menjadi lembar mengesalkan demi menyadari nilai rata-rata kelas itu. Juga, atas kenyataan yang memantikku untuk memikirkan pencapaian orang lain berbanding dengan pencapaiaku.
Aku yang tadinya tidak memikirkan nilai teman akhirnya jadi mesti memikirkannya, dan tentu saja hal ini cukup meresahkan. Semua itu demi pengakuan bahwa aku mesti lebih baik dibanding rata-rata kelas. Dari titik ini, kemudian aku mencoba berusaha untuk lebih baik dengan belajar sedikit lebih keras. Jadi setiap ujian rasa deg-degan itu semakin kencang, apalagi ketika menunggu rapot dibagikan, degupnya semakin kencang. Tetapi untungnya hal semacam ini tidak berlangsung lama karena aku masih punya sifat malas yang lumayan terpelihara. Nilai rata-rata kelas itu pada akhirnya aku anggap sebagai data saja dan aku lebih mementingkan nilaiku saja dengan semangat cukup untuk tidak tinggal kelas.
Semakin dewasa, aku semakin bersyukur atas rasa malas itu. Jika tidak tentu saja aku akan diperbudak pada perlombaan tak jelas hanya untuk mengejar nilai di atas rata-rata kelas. Ini menjadi capaian semu menurutku, sebab jika ada rata-rata kelas berarti ada rata-rata sekolah, rata-rata kota, propinsi, negara, dan bahkan dunia. Pertanyaan besar dalam kepalaku kemudian menyeruak, untuk apa semua pencapaian pribadi ini mesti diperbandingkan? Jadi secara tak sadar, kita ini sedikit dipaksa untuk membandingkan diri kita dengan orang lain. Padahal menjadi diri sendiri saja itu susahnya minta ampun. Ya, aku mesti menjadi diri sendiri yang pada saat itu mesti membangun kesadaran, "yang penting tidak tinggal kelas, dan nanti dapat lanjut di sekolah negeri". Kesadaran ini timbul karena aku bukan berasal dari keluarga cukup dan tidak mau terlalu menjadi beban kehidupan orang tua, meski hal itu sulit dihindari. Kesadaran ini membuat ringan langkahku sambil terus memelihara rasa malas dengan kenakalan anak-remaja yang tak terlalu merepotkan di lingkup sekolahan. Intinya santai saja, toh bumi itu berputar pelan sekali sampai tak terasa gerakannya tapi tahu-tahu telah mengelilingi matahari. (**)
Nauka Coffee, 06 0626
Sabtu, 06 Juni 2026
Nilai Rata
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Betul juga ya, pendidikan kita selalu dipojokkan pada "saya berapa" " Kamu berapa" Dan " Kita berapa". Tapi ujungnya setelah tahu "berapa" Endingnya untuk apa "berapa" itu dan angka "berapa" itu belum tentu mencerminkan " BISA APA"
BalasHapusNah.... seperti itulah
BalasHapus